MONONDOK–Upaya peningkatan kualitas budidaya rumput laut terus dilakukan melalui pendampingan langsung kepada masyarakat.
Dr. Samsu Adi Rahman, akademisi Unismuh Luwuk Banggai sekaligus peneliti rumput laut, melakukan monitoring dan diskusi lapangan bersama para pembudidaya rumput laut di Desa Sama Jatem, Kecamatan Pagimana, Kabupaten Banggai.
Dr. Samsu Adi Rahman menekankan bahwa tantangan utama budidaya rumput laut hingga saat ini masih terkait dengan penyakit ice-ice.
Penyakit ini biasanya muncul pada kondisi ekstrem, baik saat musim kemarau berkepanjangan maupun musim hujan yang terus menerus.
“Kami fokus pada penelitian bagaimana mengendalikan penyakit ini agar produktivitas rumput laut tetap terjaga,” jelasnya.
Salah satu pembudidaya, Ibu Hasna, turut membagikan pengalamannya.
Ia mengungkapkan bahwa ketika musim panas atau hujan berkepanjangan, rumput laut kerap memutih dan akhirnya rontok.
“Kalau rumput laut sudah terkena putih, harus cepat diangkat. Kalau tidak, rumput laut akan rusak semua,” ujarnya.
Menanggapi hal tersebut, Dr. Samsu Adi Rahman memberikan rekomendasi agar rumput laut yang terinfeksi segera dipisahkan dan tidak dibuang di lokasi budidaya.
Hal ini penting untuk mencegah penularan pada rumput laut yang masih sehat.
Selain itu, ia juga menyarankan pembangunan kebun bibit agar pembudidaya memiliki sumber bibit yang berkelanjutan dan tidak bergantung dari daerah lain.
Tidak hanya berdiskusi, Dr. Samsu juga turun langsung mengecek kondisi rumput laut di lapangan bersama para pembudidaya.
Dalam proses tersebut, ia mengambil beberapa bibit sehat untuk diuji menggunakan produk yang tengah dikembangkan sebagai salah satu upaya pengendalian penyakit rumput laut. Kegiatan ini diharapkan dapat memberikan solusi nyata bagi pembudidaya dalam menghadapi berbagai kendala, sekaligus memperkuat kolaborasi antara akademisi dan masyarakat pesisir untuk pengembangan budidaya rumput laut yang berkelanjutan di Kabupaten Banggai. ***

















