banner 728x250

Fun Camping dan Upaya Pertamina EP Donggi Matindok Field dalam Pemberdayaan Masyarakat Kokolomboi Banggai Kepulauan

Kawasan pemukiman masyarakat Kokolomboi Desa Leme Leme Darat, Kecamatan Buko, Banggai Kepulauan. Di wilayah ini, Pertamina EP Donggi Matindok Field hadir dengan program pemberdayaan masyarakat sejak tahun 2021. (dok monondok)
banner 468x60

MONONDOK.COM, Banggai Kepulauan—Masyarakat Dusun Kokolomboi, Desa Leme-Leme Darat, Kecamatan Buko, Kabupaten Banggai Kepulauan, mengapresiasi kehadiran program pemberdayaan masyarakat Pertamina EP Donggi Motindok Field (DMF).

Program PEP Donggi Matindok Field ini hadir sejak tahun 2021. Di lokasi ini, DMF melaksanakan program pemberdayaan masyarakat adat Kokolomboi, yang merupakan suku asli Sea-Sea.

banner 728x250 banner 728x250

Perusahaan migas yang beroperasi di wilayah Kabupaten Banggai ini melaksanakan program inovasi sosial untuk mengatasi deforestasi hutan yang mengakibatkan degradasi lingkungan.

Lewat program ini, Pertamina EP DMF pun berhasil meningkatkan taraf kehidupan masyarakat Kokolomboi.

Seorang warga yang juga penggiat wisata Kokolomboi, Labi Mopok (50) menceritakan, masyarakat setempat merupakan masyarakat petani dan pemburu satwa.

Sebagai petani dan pemburu, mereka bergantung dari bertani dan berburu satwa, yang tidak cukup untuk menopang hidup dalam setahun.

“Hasil berkebun hanya dapat menopang hidup satu dua bulan,” ungkapnya.

Untuk kebutuhan lauk makanan, masyarakat setempat berburu babi hutan, kuskus, dan berbagai jenis burung, termasuk Gagak Banggai.

Hasil buruan yang diburu dengan berbagai cara perburuan sederhana itu ini hanya cukup untuk makan sehari dua hari.

Namun, seiring berjalannya waktu, perilaku masyarakat Kokolomboi mulai berubah. Mereka akhirnya menyadari jika di Kokolomboi, kawasan mereka bermukim terdapat satwa-satwa endemic yang harus dilindungi dan dijaga.

Ini setelah pemerintah Kabupaten Banggai Kepulauan hadir melakukan pembinaan kepada masyarakat terkait pelestarian lingkungan pada tahun 2013.

Di bawah binaan pemerintah daerah, masyarakat yang awalnya menebang hutan untuk dijadikan kebun, diajak untuk melindungi satwa endemik.

Namun, jika kebutuhan ekonomi kurang, warga setempat kembali berburu satwa dan menebang pohon untuk bertahan hidup. 

Kemudian sekitar tahun 2020, Pertamina EP Donggi Matindok Field hadir dengan program pemberdayaan masyarakat yang berhasil mengubah perilaku dan pola hidup masyarakat secara drastis.

Melalui program pemberdayaan masyarakat, Pertamina EP DMF mengajak penduduk setempat untuk menyelamatkan kawasan hutan.

“Dengan upaya pelestarian lingkungan ini, kami mengetahui betapa pentingnya hutan bagi kami, karena hutan menyediakan pakan bagi lebah,” kata Labi Mopok.

Ia, mengungkapkan, dengan program CSR, Pertamina EP Donggi Matindok Field, masyarakat setempat mendapatkan pendampingan dan bantuan untuk membangun sarang-sarang lebah, serta memasarkan hasil madu.

“Dengan kehadiran Pertamina EP DMF mendapatkan bantuan dalam pembuatan jenis-jenis sarang lebah, serta bantuan dalam pemasaran madu dari lebah,” ujarnya.

Labi Mopok mengungkapkan, ia bersama kelompoknya dapat menghasilkan 6.000 liter hingga 10.000 liter lebih madu dalam setahun.

“Tahun ini kami baru saja panen, hasilnya sekitar 6000 liter madu,” ungkapnya, Selasa 22 April 2025.

Banyaknya hasil panen madu tergantung pada pakan lebah. Pakan lebah tersebut berasal dari nektar dan serbuk sari yang dihasilkan bunga-bunga dari pohon-pohon di kawasan hutan sekunder dan primer yang tumbuh di kawasan Kokolomboi dan sekitarnya.

Ia bersama kelompoknya juga mendapatkan bantuan alat pemeras madu dan bantuan dalam pemasaran madu. Ia pun berterima kasih kepada Pertamina EP Donggi Matindok Field yang telah membantu warga setempat meningkatkan ekonominya dengan membudidayakan lebah madu.

Kepada media ini, Labi Mopok juga menunjukkan alat pemeras madu bantuan Pertamina EP Donggi Matindok Field, yakni Pasterurisasi dan Vacum Cooling yang berada di kawasan pemukiman warga Kokolomboi.

BACA JUGA  Mahasiswa Unismuh Luwuk Banggai Dibekali Materi Tentang AIK hingga Program Kerja dan Luaran KKN MB

Peralatan bantuan Pertamina EP Donggi Matindok Field kepada kelompok masyarakat di Kokolomboi ini jauh lebih besar dan mampu menghasilkan madu premium dengan kualitas yang lebih baik sehingga harga madunya pun lebih mahal.

“Dengan peralatan ini dapat dihasilkan madu murni dan madu premium yang kualitasnya lebih baik, juga harga madunya lebih mahal,” katanya.

Yermin Yanggola, Ketua Lembaga Adat Tagong Tonga, mengatakan, kehadiran Pertamina EP Donggi Matindok Field, sangat membantu mendorong masyarakat Kokolomboi menjaga lingkungan dan budaya, juga memanfaatkan potensi kawasan dalam meningkatkan ekonomi.

“Kehadiran Pertamina EP DMF sangat berharga bagi kami masyarakat Kokolomboi. Ucapan terima kasih yang sebesar–besarnya kepada Pertamima EP DMF karena telah mendorong masyarakat kami mengetahui dan lebih bersemangat menjaga lingkungannya, mengetahui potensi budaya dan ekonominya, serta memperkuat kebersamaan dan sinergi untuk memanfaatkan potensi-potensi ini,” ujar Yermin Yanggola.

Ia, berharap keberadaan program-program pemberdayaan Pertamina EP Donggi Matindok mampu mendorong kelestarian lingkungan, budaya serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.

Dikenal Hingga Mancanegara

Tak hanya kawasan wisata Paisupok, di Banggai Kepulauan terdapat kawasan lain yang dikenal hingga ke mancanegara, yakni Kokolomboi.

Mengacu pada kunjungan yang dikelola oleh Pengelola Taman Kehati Kokolomboi, tercatat sebanyak 453 wisatawan domestik dan lebih dari 60 wisatawan mancanegara dari 22 negara telah berkunjung ke kawasan ini.

Kunjungan wisatawan ke kawasan Kokolomboi ini memberikan pendapatan tambahan bagi masyarakat sekitar sebagai penyedia jasa lingkungan dengan ketentuan tamu domestik sebesar Rp 60.000/orang/hari dan tamu asing Rp 200.000/orang/hari.

Kokolomboi, merupakan subdesa Leme-Leme Darat, Kecamatan Buko, Kabupaten Banggai Kepulauan.

Kokolomboi berjarak sekitar 4 km dari pusat pemerintahan Desa Leme-leme Darat atau 120 km dari Salakan, ibu kota Kabupaten Banggai Kepulauan.

Wilayah Kokolomboi dapat diakses langsung dari Luwuk Kabupaten Banggai menggunakan kapal cepat yang berlabuh di Teluk Lalong, dengan waktu tempuh sekitar satu jam hingga ke pelabuhan Leme-Leme Darat, Kecamatan Buko, Banggai Kepulauan.

Selanjutnya wilayah Kokolomboi hanya dapat diakses dengan menggunakan kendaraan khusus, seperti mobil 4WD (Four-Wheel Drive).

Pasalnya jalan yang dibangun pemerintah daerah untuk mengakses Kokolomboi hanya separuhnya beraspal, selebihnya masih jalan tanah dan berbatu. Jalan menanjak dengan jurang yang dalam ini pada musim hujan makin sulit diakses karena berlumpur dan licin.

Secara geografis, Desa Leme-leme Darat berada di Pulau Peling bagian barat berada 2 meter di atas permukaan laut.

Sementara dusun Kololomboi berada di ketinggian 600 meter di atas permukaan laut. 

Desa ini memiliki luas keseluruhan 600 hektar dengan luas pemukiman 8,5 hektar, kawasan yang dengan udara pegunungan yang sejuk itu dihuni sekitar 26 Kepala Keluarga atau 60 jiwa.

Dari data Pemerintah Desa menunjukkan 15,05 persen dari penduduk Desa Leme-leme adalah penduduk prasejahtera.

Warga setempat memenuhi kebutuhan hidupnya melalui kegiatan pertanian dengan sistem ladang berpindah, illegal logging, merambah hutan, dan berburu satwa baik untuk kebutuhan komersil maupun konsumsi pribadi.

BACA JUGA  Kinerja Gemilang di Sulawesi, Pertamina Drilling Raih Penghargaan dari PT Pertamina EP Zona 13

Eksploitasi secara berlebihan yang dilakukan oleh oknum-oknum tertentu, termasuk dengan mengambil kayu, rotan, hingga berburu binatang di hutan juga memperparah degradasi.

Berdasarkan data dari Pemerintah Kabupaten Bangkep, sebesar 144,86 Ha kondisi lahan di kawasan hutan sangat kritis. Upaya perbaikan antara lain dengan pemantauan berbasis komunitas, pengembangan hutan adat, festival tradisional berskala internasional, serta pengembangan ekowisata.

Di Kokolomboi, Subdesa Leme-Leme Darat itu, PEP Donggi Matindok Field sejak tahun 2021 telah melaksanakan program pemberdayaan masyarakat.

Melalui program inovasi sosial tersebut, Pertamina EP DMF dan masyarakat setempat berupaya untuk mengatasi deforestasi hutan yang mengakibatkan degradasi lingkungan. 

Selain penjaga hutan, masyarakat adat diharapkan dapat berperan menjadi perpustakaan hidup yang berperan memahami setiap spesies yang ada di kawasan hutan Kokolomboi.

“Masyarakat adat pengetahuan tradisional dan praktik berkelanjutan dalam mengelola sumber daya alam, tapi sayangnya peran mereka malah seringkali terpinggirkan. Padahal mereka adalah perpustakaan hidup yang justru mengemban tugas jadi penjaga rumah mereka. Masyarakat Adat Togong Tanga menjadi bukti bahwa keberadaan mereka bisa membantu upaya konservasi, khususnya mengatasi pelaku illegal logging,” ujar  Field Manager PEP DMF, Ridwan Kiay Demak.

Untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, Pertamina EP Donggi Matindok Field mendorong kegiatan ekonomi yakni budidaya lebah dan wisata minat khusus.

Budidaya lebah madu menjadi salah satu upaya rehabilitasi kawasan hutan mengingat peran lebah sebagai pollinator yang membantu penyerbukan tanaman di sekitar kawasan.

Selain itu, budidaya lebah madu ini juga menjadi mata pencaharian masyarakat dari yang sebelumnya menjual kayu hasil hutan dan berburu satwa.

Petani madu yang terlibat di dalam kawasan taman Kehati kokolomboi mencapai 10 orang dengan kemampuan panen sebesar 800 hingga 1200 liter dalam satu tahun.

Kelompok tani madu Kokolomboi turut melibatkan petani madu di luar kawasan untuk memenuhi permintaan pasar. Hingga saat ini sebanyak 245 anggota telah terafiliasi dengan kemampuan produksi sebesar 8.400 liter setiap tahunnya.

Fun Camping dan Peringatan Hari Bumi

Dusun Kokolomboi menjadi lokasi peringatan Hari Bumi yang digelar Pertamina EP Donggi Matindok Field, bagian dari Zona 13 Regional Indonesia Timur Subholding Upstream Pertamina.

Kegiatan Fun Camping, sebagai bentuk komitmen bersama mewujudkan keberlanjutan lingkungan, dilaksanakan pada Senin 21 April sampai Selasa  22 April 2025.

Kegiatan ini dihadiri oleh unsur pemerintah Kabupaten, pemerintah Kecamatan dan Desa, serta masyarakat setempat. Turut hadir puluhan siswa SMK Kristen Bulagi Utara dan siswa SMA Negeri Buko dan media massa. 

Melalui kegiatan Fun Camping, Pertamina EP Donggi Matindok Field bersama siswa SMA dan SMK serta masyarakat setempat melaksanakan penanaman pohon di kawasan hutan Kokolomboi.

PEP Donggi Matindok Field hadir sejak tahun 2021 melalui program inovasi sosial untuk mengatasi deforestasi hutan yang mengakibatkan degradasi lingkungan.

Program program pemberdayaan masyarakat ini bersinergi dengan lembaga adat Togong Tanga, yang merupakan suku asli Sea-Sea.

Field Manager Pertamina EP DMF, Ridwan Kiay Demak, menyampaikan terima kasih kepada masyarakat Dusun Kokolomboi, Banggai Kepulauan. Ia mengapresiasi keramahan masyarakat Kokolomboi yang terus menyambut penuh keramahan setiap mengunjungi wilayah ini.

BACA JUGA  Selain Pemberdayaan Masyarakat Adat PEP Donggi Matindok Field, Gubernur Anwar Hafid Apresiasi Program Pertanian Berkelanjutan JOB Tomori

Ia, berharap, ekowisata taman Kohati Kokolomboi, dapat terus dikenalkan dan menjadi contoh bagi daerah lain.  

Selain alam dan lingkungannya, ia juga berharap budaya masyarakat setempat terus dilestarikan.

Paling penting, Ridwan Kiay Demak juga mengapresiasi semangat gotong royong masyarakat setempat yang jarang ditemukan di tempat lain.

“Ini luar biasa. Yang paling luar biasa yaitu semangat gotong royong, semangat untuk membangun bersama-sama,” imbuhnya.

Ridwan Kiay Demak, mengatakan, peringatan Hari Bumi dirayakan setiap tahun untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya menjaga lingkungan dan memperingatkan bahaya kerusakan ekologis, termasuk deforestasi, polusi, dan perubahan iklim.

“Hari ini menjadi momen untuk menghargai kontribusi masyarakat adat dalam pelestarian alam dan mengingatkan perlunya mendukung hak-hak mereka,” tambah Ridwan Kiay Demak.

Sementara itu, Widya Gustiani, Assistant Manager Communications Relations Regional 4 Subholding Upstream Pertamina, berterima kasih atas sambutan hangat masyarakat Kokolomboi.

Ia mewakili Pertamina Regional IV mengucapkan terima kasih kepada masyarakat Kokolombi yang telah menjalankan program bersama masyarakat Pertamina EP DMF.

“Alhamdulillah banyak apresiasi dan perhatian yang begitu besar dari pemerintah karena Kokolomboi telah menjadi contoh positif terkait pengembangan konservasi maupun pengembangan ekonomi,” tuturnya saat menghadiri Fun Camping yang digelar Pertamina EP Donggi Matindok Field.

Ia, berharap, ke depan kerja sama tersebut dapat berkelanjutan sehingga Kokolomboi dapat terus maju dengan program program terbaiknya.

Sebelumnya, Sekretaris Kecamatan Buko, Aprilia Mombilia, mengucapkan terima kasih kepada Pertamina EP Donggi Matindok Field yang terus bekerja sama dengan masyarakat dan pemerintah menjaga kelestarian lingkungan, khususnya di Kokolomboi.

Aprilia Mombilia menilai kegiatan Fun Camping dan penanaman pohon bersama siswa dan masyarakat, merupakan momen penting untuk mencintai dan memelihara alam.

Ia juga mengucapkan juga terima kasih kepada masyarakat Kokolomboi untuk mendukung kegiatan pelestarian lingkungan.

Ia berharap Kokolomboi akan terus dikenal oleh ditingkat nasional maupun internasional.

“Kami ucapkan terima kasih atas konstribusi pertamina EP terhadap masyarakat Kokolomboi. Kami berharap kerja sama dengan pertamina EP ini dapat terus berkelanjutan,” ujarnya.

Diketahui, kontribusi masyarakat adat Togong Tanga dalam menjaga hutan tetap lestari tersebut turut mendukung capaian Sustainable Development Goals tujuan 13 Penanganan Perubahan Iklim melalui kegiatan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim serta tujuan 15 Ekosistem Daratan melalui upaya perlindungan, restorasi, dan meningkatkan pemanfaatan berkelanjutan ekosistem daratan, mengelola hutan secara Lestari, menghentikan penggurunan, memulihkan degradasi lahan, serta menghentikan kehilangan keanekaragaman hayati. ***

banner 728x250 banner 728x250
banner 120x600