banner 728x250

Pelepasliaran Anakan Maleo Dilakukan JOB Tomori dan BKSDA Sulteng di Kawasan Suaka Margasatwa Bakiriang Banggai

JOB Tomori dan BKSDA Sulteng kembali melepasliarkan anakan burung maleo di Kawasan Suaka Margasatwa Bakiriang, Kabupaten Banggai, pada Jumat 28 Maret 2025. (dok monondok)
banner 468x60

MONONDOK.COM,Luwuk—Anakan Maleo (macrocephalon maleo), kembali dilepasliarkan oleh JOB Tomori dan BKSDA Sulteng di kawasan Suaka Margasatwa Bakiriang, Kabupaten Banggai.

Anakan maleo berumur satu sampai empat bulan itu, dilepasliarkan pada koridor ekologis burung maleo di kawasan Suaka Margasatwa Bakiriang, pada Jumat 28 Maret 2025.

banner 728x250 banner 728x250

Hadir dalam pelepasliaran anakan maleo ini, perwakilan BKSDA Sulteng maupun perwakilan manajemen JOB Tomori.

Tim Ahli Konservasi Maleo Dr Ir Mobius Tanari, MP, IPU, menyebutkan pelepasliaran anakan maleo oleh JOB Tomori dan BKSDA Sulteng dirangkaikan dengan Hari Hutan Sedunia.

Pelepasliaran anakan maleo tersebut merupakan yang kelima kalinya dalam kurun waktu enam tahun terakhir.

Kerja sama JOB Tomori dan BKSDA Sulteng terbilang sukses melepasliarkan anakan maleo ke kawasan suaka Marga Satwa Bakiriang.

Dalam enam tahun kerja sama BKSDA Sulteng dan JOB Tomori, anakan maleo yang dilepasliarkan sebanyak 115 ekor maleo.

Diketahui, kerja sama pelestarian maleo ini dilaksanakan sejak tahun 2019. Namun, Pandemi Covid-19 menyebabkan pelepasliaran anakan maleo di kawasan Suaka Margasatwa Bakiriang tersebut sempat terhambat.

“Puji syukur maleo yang dilepasliarkan ini dapat mencapai 115 ekor anakan maleo,” kata Mobius Tanari.

Selain melakukan pelepasliaran maleo pihaknya juga melakukan penyadartahuan tentang pelestarian maleo kepada mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Kristen (STAK) Luwuk Banggai di Luwuk, pada Kamis 27 Maret 2025.

Terutama penyadartahuan mengenai konservasi maleo di ex situ maupun konservasi maleo di in situ.

Mobius Tanari berharap kepedulian terhadap lingkungan dan satwa endemik Sulawesi ini dapat tumbuh pada diri mahasiswa sebagai calon pemimpin agama.

Nantinya dapat turut mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya pelastarian alam dan satwa maleo saat kembali mengabdi di lingkungan masyarakat.

BACA JUGA  Akademisi Unismuh Luwuk Banggai Lakukan Pendampingan Pembudidaya Rumput Laut di Desa Sama Jatem

Ia juga berharap ke depan pihaknya masih dapat melakukan pelepasliaran burung maleo ke kawasan Suaka Margasatwa Bakiriang.

Mobius Tanari, yang juga Ketua Pengembangan dan Pengkajian Satwa Endemik Sulawesi Fakultas Peternakan dan Perikanan Universitas Tadulako Palu ini mengucapkan terima kasih kepada JOB Tomori atas kepedulian dan konstribusinya terhadap ilmu pengetahuan.

Ia, mengatakan, sebelumnya riset tentang maleo sulit dilakukan. Namun, saat ini riset tentang satwa endemik Sulawesi ini makin mudah dilaksanakan menyusul adanya kerja sama antara BKSDA Sulteng dan JOB Tomori. 

Ia menyakini adanya peningkatan populasi maleo dalam beberapa tahun terakhir.

Meski hal ini masih akan dievaluasi, namun adanya potensi peningkatan populasi maleo tersebut dapat diketahui dari jumlah telur di kawasan Suaka Margasatwa Bakiriang.

Meski begitu, kata dia, telur maleo tersebut tidak dapat dikeluarkan dari kawasan Suaka Margasatwa Bakiriang untuk ditetaskan.

Berbeda dengan telur yang berada di luar kawasan SM Bakiriang yang dapat ditetaskan, hingga menjadi menjadi anakan maleo dan kembali dilepasliarkan di habitatnya.

Ia juga menjelaskan, sepuluh tahun lalu status maleo yakni endangered spesies atau rawan punah, namun kini statusnya menjadi kritis punah. 

Jika hal ini tak dapat dicegah, maka maleo berisiko punah di alam (EW) dan punah (EX).

“Adanya konservasi seperti yang dilakukan JOB Tomori ini berkonstribusi besar terhadap pelestarian maleo, walaupun punah di alam, tidak punah di luar,” katanya.

“Sebagai seorang akademisi, saya berterima kasih kepada JOB Tomori atas kepeduliannya terhadap satwa endemik Sulawesi ini,” tuturnya.

Sementara itu, perwakilan manajemen JOB Tomori Muhamad Fatoni mengatakan, pelepasliaran anakan maleo merupakan upaya perusahaan untuk turut berkonstribusi menjaga kelestarian burung maleo di Kabupaten Banggai Provinsi Sulawesi Tengah.

BACA JUGA  PUPR Banggai Gelar PCM Proyek Pembangunan TPS-3R Pagimana, Ini Perusahaan Pemenang Tender

Ia, berharap program pelestarian maleo ini dapat dievaluasi sehingga tingkat keberhasilan program tersebut dapat diukur, terutama terkait survival rate maleo yang dilepasliarkan ke kawasan Suaka Margatwa Bakiriang tersebut. 

“Semoga upaya ini dapat berkonstribusi pada upaya menambah populasi maleo, sehingga maleo ini dapat tetap lestari hingga generasi di masa mendatang,” kata Fatoni.

Ia pun mengucapkan terima kasih kepada BKSDA Sulteng dan Tim Ahli Konservasi Maleo, dalam upaya meletarikan anakan maleo.

“Semoga adanya kerja sama ini dapat menambah populasi dan menjaga kelestarian maleo,” katanya.

Amatan media ini, anakan maleo dilepasliarkan dengan membuka kandang anakan maleo.

Anak-anak burung maleo berumur satu sampai empat bulan ini pun, langsung melangkah menuju hutan di kawasan Suaka Margasatwa Bakirang. Beberapa di antara anakan maleo berumur empat bulan terlihat terbang dan bertengger di dahan-dahan tegakan pohon kayu di kawasan tersebut. ***

banner 728x250 banner 728x250
banner 120x600