banner 728x250

Sejak Tahun 2016, Essa PT Panca Amara Utama Sukses Lepasliarkan 411 Anakan Maleo ke Kawasan Suaka Margasatwa Bakiriang

Essa PT Panca Amara Utama dan BKSDA Sulteng melepasliarkan anakan maleo di kawasan Suaka Margasatwa Bakiriang, Kabupaten Banggai, pada Rabu 26 Maret 2025.
banner 468x60

MONONDOK.COM,Banggai—Pelepasliaran anakan maleo kembali dilakukan Essa PT Panca Amara Utama dan BKSDA Sulteng di kawasan Suaka Margasatwa Bakiriang, Kabupaten Banggai, pada Rabu 26 Maret 2025.

Pelepasliaran anakan maleo berumur empat bulan itu, hanya berselang 4 bulan setelah pelepasliaran anakan maleo pada Sabtu 30 November 2024.

Pelepasliaran 26 anakan maleo ini dihadiri perwakilan manajemen Essa PT Panca Amara Utama dan Resor KSDA Wilayah Banggai, BKSDA Sulawesi Tengah, I Nyoman Ardika, mewakili Kepala BKSDA Sulteng.

Hadir pula penanggung jawab Konservasi Ex Situ Maleo Essa PT Panca Amara Utama, Dr. Mobius Tanari.

Jumlah anakan maleo yang dilepasliarkan Essa PT Panca Amara Utama mencapai 411 ekor sejak pertama kali dilakukan pada tahun 2016.

Penanggung jawab Konservasi Ex Situ Maleo Essa PT Panca Amara Utama, Dr. Mobius Tanari, menyebutkan, anakan maleo yang dilepasliarkan kali ini sebanyak 26 ekor.

Ia, mengakui, pelepasliaran sejak tahun 2016 tersebut mencatatkan jumlah yang cukup banyak, yang tidak pernah diperkirakan sebelumnya. Sebab, menetaskan telur maleo hingga memeliharanya bukan hal yang mudah.

“Terutama di umur satu hari sampai dua minggu,” ungkapnya.

Mobius Tanari, akademisi Untad Palu ini mengatakan, pelepasliaran anakan maleo sebanyak 26 ekor dirangkaikan dengan momen ulang tahun Komisaris Utama ESSA PT Panca Amara Utama, Vinod Laroya, yang berulang tahun pada 26 Maret.

“Pelepasliaran anakan maleo ini merupakan sumbangsih dan kepedulian beliau terhadap konservasi maleo,” katanya.

Ia, mengatakan, sepuluh tahun lalu status maleo endangered spesies, kini statusnya menjadi kritis punah. Hal ini harus menjadi motivasi para pegiat konservasi untuk terus melakukan konservasi maleo.

Mobius Tanari,  menjelaskan,  kehadiran konservasi ex situ ESSA PT Panca Amara Utama sukses mendorong riset-riset terkait Maleo.

BACA JUGA  Akademisi Unismuh Luwuk Banggai Lakukan Pendampingan Pembudidaya Rumput Laut di Desa Sama Jatem

Ia mencatat kehadiran maleo di PAU berhasil melahirkan 3 doktor, 16 mahasiswa sarjana strata satu, dan belasan mahasiswa praktik di ESSA PT Panca Amara Utama.

Selain berhasil menambah populasi maleo di habitatnya, manfaat paling besar juga adalah pengembangan ilmu pengetahuan terkait satwa endemik Sulawesi ini.  Sehingga, kata dia, konservasi maleo mendapatkan apresiasi dari BRIN. Terutama bahwa maleo ternyata dapat dipelihara di luar habitatnya, berkembang biak, dan bahkan melahirkan generasi satu (F1).

Sementara itu, Rahmat Afandi, External Relation ESSA PT PAU, mewakili manajemen perusahaan yang bergerak di industri amoniak ini, mengapresiasi kerja sama dengan BKSDA bersama penanggung jawab konservasi ex situ PT PAU yang sejak tahun 2016 berhasil melepasliarkan 411 ekor anakan maleo.

Jumlah sebanyak itu merupakan bentuk kepedulian perusahaan terhadap konservasi. “Anakan maleo sebanyak 411 tentu tidak sedikit. Ini menjadi kebanggaan bagi perusahaaan kami karena maleo juga merupakan maskot kami khususnya di bidang konservasi,” tutur Rahmat.

Ia, mengatakan, PT Panca Amara Utama berkomitmen menjaga dan melestarikan satwa maleo sehingga tetap lestari hingga generasi-generasi mendatang.

Olehnya, peran konservasi sangat penting baik untuk pemeliharaan maupun pelespasliaran, sehingga maleo bisa terus lestari dan tidak terancam punah.

“Berkaitan dengan momen pelepasliaran maleo ini kami atas nama karyawan mengucapkan selamat ulang tahun kepada bapak Vinod Laroya,” imbuhnya.

Diketahui, Vinod Laroya adalah salah satu pemilik perusahaan yang sebelumnya adalah pimpinan ESSA PT Panca Amara Utama. 

Sementara itu, Resor KSDA Wilayah Banggai, BKSDA Sulawesi Tengah, I Nyoman Ardika, mewakili Kepala BKSDA Sulteng, mengapresiasi konstribusi dan kolaborasi berbagai stakeholder pada kegiatan konservasi.

Antaranya seperti yang dilakukan oleh ESSA PT Panca Amara Utama, perguruan tinggi maupun komunitas masyarakat.

BACA JUGA  Gebrakan 100 Hari Kerja Gubernur Anwar Hafid dan Wagub Reny Lamadjido Terbukti Ringankan Beban Finansial Masyarakat Sulteng, Termasuk di Kota Luwuk

Ia tetap optimistis bahwa konservasi mempunyai peranan penting dalam kehidupan mahluk hidup.

Ia, menjelaskan, pengelolaan sumber daya alam hayati Indonesia dilakukan melalui 3 pilar konservasi.

Pertama, kata dia, pelindungan sistem penyangga kehidupan; pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya; dan ketiga pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.

Ia, menjelaskan, perlindungan terhadap kawasan konservasi yang telah ditetapkan oleh pemerintah agar tetap terjaga sesuai dengan peruntukan dan fungsinya. Berlaku juga dengan SM Bakiriang yang menjadi habitat maleo.

Pilar kedua dari prinsip konservasi yakni pengawetan. “Maksudnya apa yang ada hari ini, harus ada selamanya,” katanya.

Adapun penurunan populasi tumbuhan dan satwa maupun penyebarannya yang terbatas, disikapi pemerintah dengan menetapkan tumbuhan dan satwa liar tersebut sebagai tumbuhan dan satwa yang dilindungi.

Ia juga menjelaskan adanya perubahan kebijakan dalam konservasi  dengan hadirnya Undang Undang Nomor 32 Tahun 2024, yang merevisi beberapa pasal yang memperkuat kedudukan dan implementasi atas undang undang Nomor 5 tahun 1990 tersebut.

“Dengan adanya perubahan kebijakan ini area tertentu yang memiliki keanekaragaman hayati dapat dipertahankan dengan konsep kemitraan konservasi,” katanya.

Menurut dia, konservasi juga perlu dilihat sisi kemanusiaan, sehingga untuk area tertentu di daerah konservasi, konsepnya adalah kemitraan atau kerja sama, baik dengan pemerintah maupun masyarakat.  

Selain pilar pelindungan dan pengawetan, pilar lainnya adalah pemanfaatan. 

Ia, menyatakan, konservasi juga dapat berjalan baik jika terjalin kerja sama dengan masyarakat. Sehingga kegiatan pemberdayaan tidak hanya oleh pemerintah desa dan pemerintah daerah tetapi juga oleh BKSDA.

“Tahun 2024 lalu, misalnya, BKSDA Sulteng melaksanakan program pemberdayaan di sepuluh desa yang berdekatan dengan kawasan Suaka Margasatwa Bakiriang,” katanya.

BACA JUGA  Satlantas Polres Banggai Gelar Sosialisasi Over Dimensi dan Overload kepada Sopir Truk

“Kami berterima kasih kepada PT PAU yang terus mendukung konservasi maleo. Kami menyakini konservasi masih akan terus berjalan dengan konsisten,” tambahnya.***

banner 728x250
banner 120x600