MONONDOK—Tim Program Desa Binaan Universitas Muhammadiyah Luwuk menyelenggarakan Pelatihan Pembuatan Cairan Fermentasi Daun Mangrove (Bio-Stimulan) di Desa Samma Jatem, Kecamatan Pagimana, Kabupaten Banggai, pada Senin 15 Juli 2026.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program pengabdian kepada masyarakat yang didukung oleh Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRTPM), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui Program Desa Binaan Universitas Muhammadiyah Luwuk.
Pelatihan diikuti oleh kelompok pembudidaya rumput laut dan kelompok pengolahan hasil rumput laut di Desa Samma Jatem.
Kegiatan ini bertujuan untuk memperkenalkan inovasi teknologi yang dapat diterapkan secara langsung oleh masyarakat dalam meningkatkan produktivitas dan kualitas budidaya rumput laut secara berkelanjutan.
Hadir sebagai narasumber, Dr. Samsu Adi Rahman, S.Pi., M.Si., dosen Program Studi Budidaya Perairan Universitas Muhammadiyah Luwuk, dan Dr. Ir. Ramadhani Chaniago, S.TP., M.P., yang memberikan materi mengenai pembuatan serta pemanfaatan bio-stimulan berbahan baku daun mangrove.
Dalam pemaparannya, Dr. Samsu Adi Rahman menjelaskan bahwa bio-stimulan yang diperkenalkan pada pelatihan ini merupakan hasil riset yang telah dikembangkannya sebagai alternatif teknologi ramah lingkungan untuk mendukung budidaya rumput laut.
Produk tersebut dibuat melalui proses fermentasi daun mangrove sehingga menghasilkan cairan yang kaya akan senyawa bioaktif dan nutrien yang bermanfaat bagi pertumbuhan rumput laut.
Menurutnya, pelatihan ini penting untuk meningkatkan kapasitas masyarakat dalam memanfaatkan sumber daya alam yang tersedia di sekitar kawasan pesisir menjadi produk yang bernilai guna tinggi.
“Bio-stimulan ini dikembangkan sebagai salah satu solusi untuk membantu mengendalikan penyakit ice-ice yang hingga kini masih menjadi kendala utama dalam budidaya rumput laut. Selain berperan dalam meningkatkan ketahanan tanaman terhadap serangan penyakit, bio-stimulan juga mampu menyediakan nutrien yang dibutuhkan sehingga pertumbuhan rumput laut menjadi lebih optimal,” jelas Dr. Samsu Adi Rahman.
Sementara itu, Dr. Ir. Ramadhani Chaniago menekankan bahwa penguasaan teknologi pembuatan bio-stimulan merupakan langkah penting dalam meningkatkan efisiensi dan keberlanjutan usaha budidaya rumput laut.
Menurutnya, inovasi berbasis bahan baku lokal seperti daun mangrove dapat menjadi solusi yang ekonomis sekaligus ramah lingkungan bagi para pembudidaya.
Ia juga menyampaikan bahwa penerapan bio-stimulan secara tepat diharapkan mampu meningkatkan kualitas maupun kuantitas hasil panen rumput laut.
Dengan demikian, produktivitas budidaya akan semakin meningkat dan memberikan dampak positif terhadap kesejahteraan masyarakat pesisir, khususnya para pembudidaya di Desa Samma Jatem.
Selama pelatihan berlangsung, peserta memperoleh penjelasan mengenai proses pembuatan bio-stimulan mulai dari pemilihan bahan baku, tahapan fermentasi, teknik penyimpanan, hingga cara aplikasi pada tanaman rumput laut. Antusiasme peserta terlihat dari aktifnya diskusi dan sesi tanya jawab mengenai penerapan teknologi tersebut pada kondisi budidaya yang mereka hadapi sehari-hari.
Melalui kegiatan ini, Universitas Muhammadiyah Luwuk terus menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan inovasi hasil penelitian yang dapat diimplementasikan secara langsung oleh masyarakat.
Hilirisasi hasil riset melalui Program Desa Binaan diharapkan mampu memperkuat kapasitas kelompok pembudidaya dalam mengembangkan usaha budidaya rumput laut yang lebih produktif, efisien, dan berkelanjutan.
Ke depan, Tim Program Desa Binaan Universitas Muhammadiyah Luwuk berharap teknologi bio-stimulan berbahan dasar daun mangrove dapat diadopsi secara luas oleh kelompok pembudidaya di Desa Samma Jatem dan wilayah pesisir lainnya.
Penerapan teknologi ini diharapkan mampu menekan serangan penyakit ice-ice, meningkatkan pertumbuhan serta kualitas rumput laut, mengurangi ketergantungan terhadap bahan kimia, dan pada akhirnya meningkatkan pendapatan masyarakat.
Selain itu, pemanfaatan daun mangrove secara bijaksana untuk menghasilkan bio-stimulan juga diharapkan menjadi contoh inovasi berbasis sumber daya lokal yang mendukung budidaya rumput laut yang produktif sekaligus tetap memperhatikan prinsip-prinsip kelestarian lingkungan pesisir.
Selain mendapatkan materi secara teoritis, para peserta juga mengikuti sesi praktik pembuatan bio-stimulan.
Pada sesi ini, kelompok pembudidaya rumput laut dan kelompok pengolahan hasil rumput laut diajarkan secara langsung oleh narasumber mengenai tahapan pembuatan bio-stimulan, mulai dari pemilihan daun mangrove sebagai bahan baku, proses pencacahan, pencampuran bahan, fermentasi, hingga teknik penyimpanan dan cara aplikasi pada rumput laut.
Melalui metode praktik langsung (learning by doing), peserta tidak hanya memahami konsep pembuatan bio-stimulan, tetapi juga memperoleh keterampilan yang dapat segera diterapkan secara mandiri untuk mendukung kegiatan budidaya rumput laut di Desa Samma Jatem. (*)
















