banner 728x250

Melihat Lebih Dekat Proses Pengeboran Sumur Bor di Kantor PUPR Banggai

Ilustrasi pembuatan sumur bor di Halaman Kantor PUPR Banggai, kawasan perkantoran Bukit Halimun Luwuk. (dok monondok)
banner 468x60

MONONDOK.COM,Luwuk—Tiga hari sudah dentuman mesin dan dengung generator kembali terdengar rutin dari halaman depan Kantor PUPR Kabupaten Banggai.

Di depan gudang PUPR Banggai, tepat di samping pintu keluar, tiga orang pekerja sibuk memancang pipa besi ke dalam tanah.

banner 728x250 banner 728x250

Mereka datang dari jauh, dari Kota Palu, membawa pengalaman dan keterampilan dalam pengeboran sumur bor.

Di bawah terik matahari yang menyengat Bukit Halimun, Luwuk, sebatang pipa berdiameter sekitar dua inci—sekitar lima sentimeter—didorong perlahan kedalam tanah.

Dua tiang penyangga vertikal berdiri kokoh, menjaga agar pipa tetap tegak lurus saat menembus lapisan demi lapisan tanah. Setiap kali satu batang pipa hampir habis tertelan bumi, para pekerja dengan sigap menyambungkannya dengan pipa baru, melanjutkan proses yang nyaris seperti ritual: pasang, sambung, dan dorong.

“Sudah 26 batang yang masuk,” kata Imam, salah satu pekerja yang ditemui Kamis sore, 29 Agustus 2025.

Lelaki berkulit sawo matang, berbadan kekar, dan tampak terbiasa dengan kerja keras lapangan seperti ini.

Menurutnya, pengeboran kali ini menargetkan total 50 batang pipa, masing-masing sepanjang 3,1 meter. Bila tercapai, kedalaman sumur akan menyentuh 155 meter—hampir setara dengan elevasi permukaan laut.

Lokasi pengeboran ini bukan titik pertama. Hanya sekitar satu meter dari titik awal, pengeboran sebelumnya belum membuahkan hasil—air tak kunjung ditemukan.

Kini, harapan digantungkan pada titik kedua.

Namun, medan Bukit Halimun ternyata menyimpan tantangan tersendiri. Tidak seperti di Palu, tempat mereka biasa mengebor dan menemukan lapisan batuan hitam pada kedalaman tertentu, di sini tanah liat mendominasi.

Warna krem pucat—beige terang—menjadi warna khas setiap gundukan tanah yang dikeluarkan dari lubang bor.

“Tanah liat ini bikin susah. Begitu pipa masuk, tariknya susah. Makanya titik awal sudah nggak bisa diangkat lagi,” jelas Imam sambil menunjuk sisa tanah galian yang menggunung di dekat alat bor.

BACA JUGA  Pendaftaran Polri Resmi Dibuka, Polres Banggai Ajak Putra-Putri Terbaik Daerah Mendaftar

Pekerjaan ini membawa harapan bahwa sumber air bersih bisa ditemukan di balik tanah liat itu.

Pasalnya, sejak kawasan Bukit Halimun dibuka sebagai pusat perkantoran di era Bupati Ma’mun Amir, kebutuhan air bersih belum sepenuhnya terpenuhi.

Distribusi air dari PDAM masih terbatas, membuat alternatif seperti sumur bor menjadi kebutuhan yang mendesak.

Di balik suara mesin bor menggunakan sistem rotary drilling dan kerja fisik yang nyaris tak berhenti dari pagi hingga sore, tersimpan harapan yang sederhana, yakni menemukan air.

Bagi Imam dan rekan-rekannya, keberhasilan pengeboran ini bukan hanya soal menyelesaikan proyek. Ini tentang menghadirkan solusi nyata di tengah keterbatasan infrastruktur dasar di perbukitan Luwuk. (*)