MONONDOK.COM,Salakan—Seorang turis memandangi Pelabuhan Salakan dari balik jendela selasar lantai dua kapal KM Fungka Permata 09.
Turis laki-laki dengan tato mencolok di lengan atas itu lantas mematikan rokoknya. Perlahan, ia merogoh kantongnya dan mengeluarkan plastik kecil. Pada plastik pembungkus rokok itu ia memasukkan puntung rokok yang sudah dimatikan apinya.
Plastik kecil yang berisi beberapa puntung rokok itu dilipatnya menjadi lipatan kecil dan dimasukkan ke kantongnya.
Ia pun melangkah pergi mencari tempat penampungan sampah sementara di haluan kapal.
Di bawah, dermaga dengan lautnya yang berwarna biru terlihat sampah plastik, dus, dan lainnya mengapung bebas.
Meski terlihat jelas mengapung, namun jumlahnya tak sebanyak sampah yang kerap terlihat terapung di sekitar dermaga kayu Pelabuhan Rakyat Luwuk. Di sini, pengguna jasa pelabuhan ditodong retribusi, tetapi kebersihannya diabaikan.
Kapal itu akhirnya diberangkatkan, molor sekitar 10 menit dari waktu yang tertulis di secarik tiket yang dijual secara manual di Pelabuhan Salakan.
Deru mesin kapal menyalak seiring dengan suara seorang perempuan dengan pengeras suara memenuhi ruangan kapal, meminta penumpang tidak membuang sampah ke laut karena di kapal tersebut telah tersedia tempat penampungan sampah sementara.
Hari pertama arus balik menggunakan transportasi laut rute pelabuhan Salakan-Luwuk ini terpantau berjalan normal pada Selasa sore, 2 April 2025.
Meski kapal penuh, tapi tidak terlihat sesak. Penumpang menaiki kapal dengan teratur pada tangga yang menghubungkan dermaga dengan lantai dua kapal, bergantian dengan buruh dan pengantar yang menuruni anak tangga.
Berbeda dengan kondisi di Pelabuhan Rakyat Luwuk pada hari terakhir pelayaran sebelum lebaran, dilakukan pemeriksaan tiket oleh syahbandar Pelabuhan Luwuk. Pada hari pertama arus balik dari Salakan, tidak ada pemeriksaan tiket di pelabuhan selain yang dilakukan oleh petugas kapal, saat telah melintas di depan perkampungan warga di Pulau Bakalan.
Sebelumnya, Kepala Unit Penyelenggara Pelabuhan (UPP) Kelas II Luwuk, Hasfar mengatakan, pemeriksaan tiket dilakukan untuk mencegah penumpang yang menaiki kapal tidak memiliki tiket.
Tujuannya untuk mencegah over kapasitas dalam arus mudik.
“Pemeriksaan tiket dilakukan semata-mata untuk keselamatan pelayaran, keselamatan penumpang kapal itu sendiri,” terangnya, pada Kamis 27 Maret 2025.
Ia, mengatakan, kapal dengan kapasitas 380 orang, sejatinya tidak dapat mengangkut penumpang lebih banyak dari kapasitas kapal tersebut.
Ia juga menjelaskan, mudik gratis merupakan imbauan pemerintah, khususnya Presiden Prabowo yang mengimbau kepada asosiasi pengusaha kapal penumpang agar melaksanakan mudik gratis.
“Alhamdulillah, ada pengusaha kapal yang menyahuti imbauan pemerintah ini, dengan melakukan mudik gratis sebanyak 400 orang,” katanya terkait mudik gratis yang diselenggarakan oleh kapal Terra Sancta, untuk penumpang dalam pelayaran Luwuk-Salakan.
Ia, mengatakan, mudik gratis tersebutjuga akan berlangsung untuk pelayaran dari pelabuhan Salakan ke Luwuk. “Insyaallah ada lagi mudik gratis dari Salakan ke Luwuk,” katanya, Kamis 27 April 2025.
Ia, mengatakan, sebelum melakukan pemeriksaan tiket, dilakukan pengamatan dan jika terlihat adanya potensi over kapasitas maka pihaknya akan melakukan pemeriksaan tiket.
“Kalau melebihi kapasitas dan potensi penumpang masih membludak di Pelabuhan, maka dilakukan pemeriksaan tiket,” katanya. Diketahui, Syahbandar Pelabuhan Luwuk melakukan pemeriksaan tiket dalam mudik menjelang lebaran Idulfitri, baik yang dilakukan di Pelabuhan Luwuk maupun Pelabuhan Rakyat Luwuk. ***


















