banner 728x250

Lebih Dekat dengan Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat Unggulan Pertamina EP Donggi Matindok Field

Safari Ramadan Pertamina EP Donggi Matindok Field bersama jurnalis Banggai, di Casa Granda, Kelurahan Karaton, Kecamatan Luwuk, pada Selasa 11 Maret 2025.
banner 468x60

MONONDOK.COM,Luwuk—PT Pertamina EP Donggi Matindok Field, sebagai bagian dari Zona 13, Regional Indonesia Timur, Subholding Upstream Pertamina, terus berkomitmen terhadap keberlanjutan dengan menerapkan prinsip ESG (lingkungan, sosial, dan tata kelola).  

Dalam menjalankan perannya sebagai salah satu perusahaan yang mendukung ketahanan energi nasional, Pertamina EP DMF juga berkomitmen menjaga keselarasan dengan lingkungan dan masyarakat di sekitar operasi, sehingga kehadirannya mampu memberikan nilai tambah dan dampak positif.

banner 728x250 banner 728x250

Diketahui, Pertamina EP Donggi Matindok Field, yang dalam kegiatan operasinya berada di bawah koordinasi dan supervisi Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas),  memiliki dua pabrik yakni unit Central Processing Plant (CPP) Donggi di Kecamatan Toili Barat di CPP Matindok di Kecamatan Batui.

Pertamina EP Donggi Matindok Field memiliki Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) yang tersebar di berbagai bidang.

Secara keseluruhan program PPM Pertamina EP Donggi Matindok Field mencakup;   5 program di bidang pendidikan, 4 program di bidang infrastruktur dan 10 program di  bidang ekonomi, 3 program bidang lingkungan, 8 program bidang kesehatan dan 1 program di bidang bencana alam.

Sementara untuk program unggulan, Pertamina EP Donggi Matindok Field, memiliki tiga program yang tersebar di tiga kecamatan di dua kabupaten.

Pertama program unggulan  Kokolomboi Lestari.

Kokolomboi Lestari adalah program pemberdayaan masyarakat adat Togong Tanga melalui pengembangan desa konservasi berbasis apikultur.

Program Kokolomboi Lestari dilaksanakan di Dusun Kokolomboi, Desa Leme-Lema Darat, Kecamatan Buko, Kabupaten Banggai Kepulauan.

Sejauh ini, program Kokolomboi Lestari telah menyasar sekitar 1.092 orang penerima manfaat, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Achmad Setiadi, selaku Sr Officer CommRels & CID Zona 13, dalam Safari Ramadan bersama jurnalis Banggai, memaparkan, bahwa program Kokolomboi Lestari merupakan upaya perlindungan kawasan hutan melalui program konservasi dengan membudidayakan lebah sebagai upaya pelestarian alam dan juga mengembangkan komoditas pariwisata.

BACA JUGA  TOT DPL KKN-MB Unismuh Luwuk Banggai, Begini Harapan Rektor UMLB

 “Melalui program Kokolomboi Lestari masyarakat setempat mendapatkan manfaat dari budidaya lebah dan produksi madunya,” katanya, dalam Safari Ramadan Pertamina EP Donggi Matindok Field bersama jurnalis Banggai, di Casa Granda, Kelurahan Karaton, Kecamatan Luwuk, pada Selasa 11 Maret 2025.

Diluncurkan sejak tahun 2020, Program Kokolomboi Lestari tersebut relatif lebih lama dilaksanakan dibanding dua program unggulan PEP DMF lainnya, dan telah menerima berbagai penghargaan dari pemerintah.

Program unggulan kedua yakni integrated agriculture bioferdom, yakni implementasi pupuk biosulfur pada lahan pertanian. 

Program ini dilaksanakan di Kayowa, Kecamatan Batui.

Program tersebut menyasar sekitar 120 penerima manfaat baik secara langsung maupun tidak langsung.

Saat ini, program integrated agriculture bioferdom dilaksanakan di lahan percontohan seluas 3 hektar sebagai demplot lahan pertanian jagung.

Kayowa yang telah ditetapkan sebagai desa tematik khusus tanaman jagung menjadi lahan percontohan.  “Lahan demplot ini akan dikembangkan dari 3 hektare menjadi 30 hektare,” katanya. 

“Hasil panen jagung rata rata dalam satu hektare mencapai 3,4 ton,” tambahnya.

Program unggulan ketiga, Integrated Farming Maggofarm yakni biokoversi sampah organic, sebagai alternatif pakan ternak dan unggas.

Program ini dilaksanakan di Desa Sentral Timur, Kecamatan Toili.  

Program tersebut mencakup lima jenis pengembangan usaha yang telah terintegrasi, yakni peternakan burung puyuh dan ayam kampung, pakan ternak, perikanan air tawar lele dan nila, pertanian cabe maupun hortikultura.

Tak hanya memberi manfaat dari sisi ekonomi, namun program tersebut juga mampu mereduksi sampah organik sebanyak 600-1000 kg per bulan. “Sampah sampah basah/domestic diolah untuk menjadi maggot,” katanya. ***

banner 728x250 banner 728x250
banner 120x600