MONONDOK.COM—Perubahan teknologi dan kompleksitas dunia kerja menuntut mahasiswa mengembangkan kemampuan yang melampaui penguasaan akademik.
Mereka perlu membangun keterampilan berpikir kritis, berkomunikasi, berkolaborasi, serta menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.
Pesan tersebut disampaikan Rektor Universitas Muhammadiyah Luwuk Banggai, Dr. Sutrisno K. Djawa, MM., saat membuka kegiatan Praktik Kerja Profesi (PKP) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unismuh Luwuk Banggai di Hotel Swiss-Belinn Luwuk, Minggu, 18 Oktober 2026.
Menurut Sutrisno, mahasiswa merupakan iron stock atau calon pemimpin masa depan yang akan melanjutkan peran generasi saat ini.
Karena itu, persiapan menghadapi masa depan tidak cukup hanya melalui penguasaan ilmu pengetahuan, tetapi juga perlu disertai kreativitas dan kemampuan menyikapi persoalan dari berbagai sudut pandang.
Ia menjelaskan, kemampuan holistik, sebagaimana juga disinggung Dekan FEB Wahyudin Rahman, mencakup pemahaman terhadap berbagai dimensi kehidupan.
Dalam perspektif Al-Islam, hal tersebut berkaitan dengan hubungan manusia dengan Allah SWT (hablum minallah) dan hubungan antarmanusia (hablum minannas).
Mahasiswa juga perlu menghubungkan ilmu pengetahuan dengan fenomena alam dan kehidupan agar mampu memahami persoalan secara lebih menyeluruh.
Dalam sambutannya, Sutrisno turut menyinggung pendekatan keilmuan melalui tiga perspektif, yakni bayani, burhani, dan irfani. Pendekatan bayani bertumpu pada Al-Qur’an dan Sunnah, burhani mengedepankan penalaran dan argumentasi, sedangkan irfani berkaitan dengan pendalaman makna dan penghayatan.
Ketiga pendekatan tersebut dapat menjadi landasan untuk memahami persoalan dan mengambil keputusan dengan pertimbangan yang lebih komprehensif.
Kolaborasi dan komunikasi di tengah perubahan
Sutrisno mengatakan, perkembangan teknologi turut mengubah pola kegiatan ekonomi dan cara masyarakat bekerja. Salah satu contohnya ialah munculnya model ekonomi berbagi (sharing economy) yang memungkinkan berbagai pihak terlibat dalam satu ekosistem layanan digital.
Perubahan tersebut menuntut mahasiswa untuk terus belajar dan menyesuaikan diri. Dalam menghadapi persoalan yang semakin kompleks, kemampuan individual perlu dilengkapi dengan kolaborasi bersama orang lain dari beragam latar belakang.
Mahasiswa Manajemen, misalnya, perlu membangun kemampuan bekerja sama lintas bidang dan profesi. Dengan melihat persoalan dari berbagai sudut pandang, mereka dapat memahami masalah secara lebih utuh.
Selain kolaborasi, komunikasi juga menjadi keterampilan penting dalam lingkungan profesional. Kemampuan menyampaikan pendapat perlu diimbangi dengan cara berkomunikasi yang tepat agar pesan dapat dipahami dan tidak menimbulkan kesalahpahaman.
Rektor juga menekankan pentingnya kemampuan berpikir kritis di tengah derasnya arus informasi digital. Kemudahan memperoleh informasi tidak otomatis membuat seseorang mampu menilai kebenarannya.
Mahasiswa perlu membiasakan diri membaca, menganalisis, memeriksa informasi, dan menarik kesimpulan secara rasional sebelum menentukan sikap atau mengambil keputusan.
Ia turut menyinggung fenomena fear of missing out (FOMO), yakni perasaan takut tertinggal informasi atau perkembangan yang sedang berlangsung. Teknologi digital semestinya dimanfaatkan untuk mendukung pembelajaran, memperluas akses pengetahuan, serta membantu analisis dan pengambilan keputusan.
Pemanfaatan teknologi tersebut perlu tetap disertai kemampuan berpikir mandiri, kreativitas, dan inovasi. Mahasiswa tidak cukup hanya mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga perlu mampu menggunakannya untuk menghasilkan gagasan dan solusi yang bermanfaat.
PKP menjadi ruang mengasah kemampuan
Melalui PKP, Sutrisno berharap mahasiswa memperoleh pengalaman langsung untuk mengembangkan kemampuan yang dibutuhkan di dunia kerja.
Lingkungan profesional menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengasah soft skill, melatih kemampuan berpikir kritis, memperbaiki komunikasi, dan membiasakan diri bekerja sama.
Dengan bekal tersebut, mahasiswa diharapkan tidak hanya memiliki kemampuan akademik sesuai bidang studi, seperti Manajemen, Akuntansi, dan Bisnis Digital, tetapi juga lebih siap menghadapi persaingan kerja di tingkat nasional maupun internasional.
Sutrisno berharap mahasiswa memanfaatkan PKP sebagai kesempatan untuk meningkatkan kualitas diri dan mempersiapkan masa depan profesional.
Pada akhir sambutannya, Rektor Unismuh Luwuk Banggai itu secara resmi membuka kegiatan PKP FEB Unismuh Luwuk Banggai Tahun 2026.
Ia juga mendampingi Dekan FEB, Dr. Wahyudin Rahman, meluncurkan Batik FEB pada akhir rangkaian pembukaan kegiatan. (*)














